Part 2! Lelaki DI Tanah Perawan - Speed Boat
KORANBIBIR - Dua bulan sebelumnya. Dermaga Sukareja Mekar. Raka berdiri di depna baliho besar bergambar penyanyi dangdut yang sedang harum ke seantero negeri, Meriska Girly. Dia kaget ketika membawa jadwal pertunjukkannya 2 hari ke depan .....
Persis malam minggu di desa Senggolo Joyo, desa yang akan ditujunya. Desa dimana Ratih tinggal ."Kabarnya Meriska Girly dibayar sama bakal calon bupati Mahoni Jaya!" Terdengar suara seseorang. "Sekalian kampanye! Sekaligus juga bulan madu!" dibarengi tawa mengejek.
Persis malam minggu di desa Senggolo Joyo, desa yang akan ditujunya. Desa dimana Ratih tinggal ."Kabarnya Meriska Girly dibayar sama bakal calon bupati Mahoni Jaya!" Terdengar suara seseorang. "Sekalian kampanye! Sekaligus juga bulan madu!" dibarengi tawa mengejek.
Raka membalik. Seseorang berbadan tinggi besar berjalan ke speed boat yang siap berangke ke Desa Semanis Jaya.
"Ayo, Semanis Jaya!" teriak orang itu naik ke speed boat, duduk dibelakang kemudi. Ternyata orang itu supir speed boat! Kedua tangan Raka bergerak-gerak, menandakan dia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.
Tas ransel masih baru dipunggungnya, terasa begitu membebaninya. Padahal isinya hanya 3 potong kemeja, 3 kaos ber-krah, 3 celana kain, 3 celana dalam, blazer, handuk, alat mandi, tripod gorilla, dan dua buku-buku best seller "Disruption" karya Rhenald Kasali dan buku untuk yang hendak menikah "Bahagianya Merayakan Cinta" karya Rhenald Kasali dan buku untuk yang hendak menikah
"Bahagianya Merayakan Cinta" karya Salim A Fillah. Beberapa kali dia membetulkan letak tas ransel yang selalu menarik posisi blazernya.
"Tinggal satu kursi lagi!" Sopir speed boat menunjuk kursi kosong di sebelahnya, berdasarkan dengan beberapa dus oleh-oleh.
"Masih bisa dengan saya, Bang?" Raka tidak percaya. Di dua deret kursi belakang penuh dengan formasi 4 - 4 orang. Raka mengernyitkan kening. Setiap penumpang menginjak barang bawannya, juga memangku di kedua pahanya. Deret paling belakang mestinya 3 orang, tapi dipaksakan 4 orang.
Ada lelaki berkaos timnas Malaysia, lelaki berkaos lusuh dilapisi jaket training dengan 3 strip di tangan, perempuan berjilbab coklat tua, dan seorang anak usia SMA asik menikmati lagu dari ear phone! Di deretan kedua juga 4 orang, mereka semua lelaki berumur di atas 50 tahunan. Ada bapak berkemeja biru bergaris, bapak bertubuh gemuk, bapak berkepala botak, dan bapak berkacamata hitam! Tinggal satu kursi kosong di sebelah supor speed boat!
"Heh! Mau naik nggak?" keras suara supir speed boat. "Cepetan! Entar ketinggalan bus ke Senggolo Joyo!"
Speed boat yang penuh sesak membuat hatinya cemas. Kedua matanya jadi mesin X-ray! Tanpa pelampugn! itu yang membuat Raka kaget dan tidka percaya! Dengan 10 penumpang termasuk dirinya! Tapi apa boleh buat, sudah terlanjut jadi bubur nasinya!
"Anjing! Ditanya malah bengong!"
Telinganya seperti mendengar bunyi bom meledak! Raka tersentak mendengar pilihan kata "anjing" keluar dari mulut supir speed boat. Ini betul-betul khas kelas bawah, tidak berpendidikan. Dia tahu ini persoalan jarak sosial dirinya dengan si supor speed boat.
Ini reaksi berlebihan dari sikap rendah diri, juga cemburu sosial. Dia tahu di negeri ini persoalan kelas sosial semakin meruncing. Apalagi ketika issue ini dimanfaatkan partai untuk meraih suara. Di Bandung sudah banyak perlawanan dari para buruh yang menunt hak-haknya ditingkatkan.
Paling repot jika kemudian ormas dan pemerintah mengaitkannya dengan paham komunis di setiap perayaan May Day 1 Mei, sehingga antara pihak pabrik dan buruh jadi bersitegang. Untung ayahnya pemilik PT Tangkuban Perahu, pabrik tekstil di Bandung memahami situasi ini, sehingga keberpihakannya tetap pada kaum buruh. Begitu juga dirinya saat ini, cenderung mengalah saja, karena perjalanannya masih jauh. Dia tidak ingin ada masalah. Dia memilih cari aman saja.
"Nggak pake pelampung?" Hah! Nggak perlu! Ngebalik, tenggelam! atau langsung dimakan buaya!" ledeknya.
Raka kaget.
"Kalau pingin enak, carter sendiri saja! Naik kapal pesiar, sana!"
Menyewa kapal pesiar? Raka masih gelagapan tapi memaklumi kemarahan supir speed boat. Betul kata Herman, bahwa dirinya akan menemukan banyak hal baru, yang berbenturan langsung dengan kelas sosialnya!
“Ayo, satu kursi lagi, nih!” supir speed boat menawarkan kepada yang lain. “Heh, kamu!” tunujuknya kepada orang bercelana pendek.
“Mau naik sekarang nggak?” supir speed boat menunjuk ke kursi depan disebelahnya.
Orang yang memakai celana pendek dan membawa tas besar mengangguk senang.
“Saya, Bang! Ke Semanis Jaya!”
“Ayo, naik!”
“Eh, jangan,” Raka menghalangi orang yang hendak mengambil tempat duduknya.
“Anjing! Gimana, sih!”
“Nggak bisa!” si celana pendek mendorongnya! “Kamu naik yang berikutnya aja!”
Raka terhuyung. Jika tidak berangkat sekarang menemui Ratih, berarti harus bermalam di desa Semanis Jaya. Bus terakhir ke Senggolo Joyo pukul 17.00 nanti. Tidak akan terkejar. Ya, harus menginap semalam. Bus berikutnya ke Senggolo Joyo berangkat besok pagi.
Bersambung ....



