Part 1! Lelaki DI Tanah Perawan - Helikopter
KORANBIBIR - Aku merasa sekujur tubuhku menjerit. Berada di helikopter dalam balutan APD lengkap seperti ini membuatku nyaris kesulitan untuk berpikir jernih. Aku harus tetap fokus. Raka. Raka. Raka.
Raka harus selamat. Aku tidak akan sanggup hidup dalam kesedihan dan rasa bersalah jik gagal menolongnya, setelah selama ini dia selalu menjadi malaikat bagiku. Dua jam perjalanan mengapung di hutan tropis terasa seperti seharian penuh.
Aku menarik napas, semakin berat ketika pilot menunjukkan aba-aba akan mendarat di lapangan desa yang kami tuju. Tanah dan sampah berputar tersedot baling-baling. Aku betulkan letak kacamata. Setelah pesawat benar-benar mendarat, aku melompat turun disusul dua paramedis. Setengah berlari kami menuju puskemas kecil di ujung lapangan bersebelahan dengan pasar, mengikuti petugas desa yang sudah sejak tadi menunggu kami. Pasar sepi seperti kuburan.
"Semuanya sudah disiapkan. Raka Kusuma Putra!" kata seorang tentara.
"Pe De Pe!" sambung tentara kedua. "Pasien Dalam Pengawasan!" Seorang petugas media menegaskan.
Aku berusaha tetap tegak, meski lututku dan tanganku gemetar. Sebuah mobil picup melintas. Seorang polisi menunjuknya dan berkata lemah. "hari ini, sudah lima orang yang kami kuburkan! Total selama sebulan ini seratus orang! Desa Senggolo Joyo kena azab Allah!"
Tak alam sebuah brankar keluar, didorong seorang perawat memakai jas hujan dan masker lusuh. Di teras beberapa warga mendekap tubuhnya menggunakan sarung dan wajahnya ditutup selendang yang diikatkan sebagai masker.
Dua orang mendekati brangkar itu. Yang seorang mirip ustad - mengenakan gamis dan sorban yang dililitkan ke wajah sebagai pengganti masker serta seorang perempuan yang sosoknya kukenal walaupun wajahnya tertutup masker.
Ratih...
"Baca syahadat, Raka!" seru si pria yang mundur lagi, karena diusir si perawat. Raka tampak berusaha keras mengangkat tangan kirinya, meski lemah. Tubuhnya dibungkus alat pelindung diri. Ratih dan pria itu terus saja menjajari brangkar menuju helikopter.
Semua tetap menjaga jarak. Aku harus mengambil gambar dan merekamnya sebagai laporan kepada orangtua Raka, sementara petugas medis dibantu polisi dan tentara mengatur posisi brangkar. Semua terjadi dalam hitungan menit.
Kami siap mengangkasa meninggalkan Desa Senggolo Joyo, tanah perawan. Aku duduk persis berhadapan dengan wajah Raka.
Tidak ad ayang bisa aku lakukan selain menunduk dan menyesali diri. Ratih dan si pria bergamis melambaikan tangannya entah kepada siapa. Dari atas sini juga tampak sebuah mobil berlogo TB Swasta baru datang dan parkir di depan puskemas. Beberapa crewnya keluar dari mobil dan menyiapkan siaran langsung. Aku mengalihkan pandangan.
Tenggorokanku tersekat. Aku berusaha menahan tangis saat menatap Raka yang terbaring lemah.
***
Bersambung .....................



