Part 3! Lelaki DI Tanah Perawan - Supir Speed Boat
KORANBIBIR - Raka memberinaikan diri menarik si celana pendek. Tanpa diduga orang itu mengankat tangan kanannya. Raka melindungi kepalanya dengan kedua lengannya. "Maaf, bang, maaf... Saya buru-buru," suaranya terbata-bata.
"Hey, anjing! Jangan main kasar!" supir speed boat tersenyum ke si celana pendek.
"Bukan tandingan kamu! Udah, biarin! Kamu naik boat si Baplang saja! Sebentar lagi juga datang!"
Si Celen pendek dengan gemas menepuk pundak Raka. "Dasar anak mama!" makinya.
"Sana, naik!" dia menendang patatnya.
Raka terhuyung-huyunh. Dia mengatupkan mulutnya, tapi tidak berani melakukan pembalasan. "Iya, Bang. Saya ikut." dia mengangguk ragu dan dengan hati-hati menaiki speed boat.
"Kamu itu sales atau tukang kredit?" supir speed boat tertawa puas.
Pertanyaan supir speed boat yang mulutnya lancang! Tapi apalah daya ketika melihat tubuhnya yang tinggi besar! Dia sadar, memang salah kostum. Tapi, mau bagaimana lagi? Setiap hari dandanannya memang begitu, dia paling suka memakai celana bahan, kaos bergaris atau kemeja, dan dilaposoo blazer dipadukan sepatu pantopel atau sandal sepatu kulit. "Brangkat!" teriak supir speed boat sambil melambaikan tangannya ke atah supir speed yang baru tiba.
"Baplang, I Love You!" teriaknya.
Baplang balas melambai dan tertawa.
Hah, berangkat? Raka baru saja duduk dengan memangku tas ranselnya, speed boat langsung melonjak ibarat kuda liar, mengangkat kedua kakinya kemudian berlari kencang. Tubuh Raka terjengkang. Supir speed tertawa terbahak-bahak.
“Pegangan tangan! Nanti jatuh ke sungai! Dimakan buaya!” Sopir speed boat masih saja tertawa puas.
“Dasar anak kota!”Orang kota! Julukan untuk Raka! Dia merasakan telinganya panas, tapi tidak ada gunanya berdebat dengan orang udik seperti sopir speed boat ini.
Dia harus siap jadi bulan-bulanan! Tapi dia punya harga diri sebagai lelaki. Dia duduk dengan tegak memegangi ransel yang dipangku di kedua pahanya. Speed boat melompat-lompat dan terbang di permukaan sungai. Seperti lumba-lumba. Tubuhnya terlonjak ke samping kiri dan kanan.
Raka menarik masker buff yang melingkar di lehernya, menutupi wajahnya hingga ke hidung. Gerimis! Angin kencang basah dari arah depan membuat kaca matanya buram. Rambutnya yang hitam keras seleher serupa sapu ijuk, lengket bercampur debu dan air hujan.
Aku harus kuat! Aku harus bertahan! Semuanya untuk Ratih! Ya, Ratih! Tunggu, aku datang kepadamu, Ratih! Dia ingat setelah di wisuda, bercakap-cakap dengan Ratih di Situ Cileunca, desa Ciwideuy. Mereka berdua mengayuh sepeda perahu.
“Kamu yakin, orangtuamu menerima aku?”
“Kenapa nggak? Yang mau berumahtangga kan kita.”
“Ibuku hanyalah istri simpanan, Raka.”
“Itu nggak jadi soal, Ratih!”
“Rumahku di tengah hutan! Jelek! Nggak sepadan dengan kamu!”
“Nanti akan aku buatkan istana buat kamu dan ibumu! Kekayaan orangtuaku buat siapa lagi kalau bukan buat aku? Cuma aku anaknya!”
Kilat menggelegar, menghancurkan lamunan Raka. Pecutan cahaya yang menyerupai lambang “flash” menggelepar di langit!
“Hujan! Pasang atap!” Sopir speed boat menarik atap dari terpal ketika hujan turun. Delapan penumpang di belakangnya membantu merapikan.
Setelah atap terpal terpasang, Raka merasakan lebih repot lagi. Dia harus selalu pada posisi kepala menunduk, karena atap speed boat rendah. Sangat menyiksa!
“Makanya punya badan jangan tinggi-tinggi! Kurus lagi!”
Menyebalkan sekali supir udik ini! Tinggi badannya 178 cm, tapi soal kurus itu bukan kemauannya. Itu membuat tengkuknya pegal. Tapi, aneh! Supir speed boat juga berbadan tinggi besar, tetap nyaman dan wajahnya memancarkan kegembiraan. Dia merasa semakin tidak nyaman, karena duduk berdesakan dengan supir.
“Nggak bisa pelan-pelan, Bang?”
“Mau ketinggalan bus ke Senggolo Joyo?”
Betul-betul tidak nyaman. Kesepuluh penumpang berdesakan memangku barang bawaan miliknya juga milik penumpang lain, tetapi tidak ada seorang pun yang mengeluh. Dia tahu, sebetulnya secara protokol keselamatan, penumpang yang diizinkan hanya enam orang.
Bahkan ini tanpa pelampung. Dasar gila! Semuanya demi uang! Dia ingat pesan Papih-Mamihnya, tidak boleh mengeluh! Semua harus dihadapi dengan kesabaran! Tiba-tiba permukaan sungai bergelombang. Speed boat melaju dan menabraknya. Terbang. Raka berteriak!
BERSAMBUNG ......



