Margaret Keane Bocah Perempuan Yang Sampai Sekarang Masih Diperbincangkan! Melihat Lebih Dekat Tentang Dirinya
KORANBIBIR - Margaret (Amy Adams) akhirnya mengambil keputusan berat dalam hidupnya pada suatu hari itu di tahun 1958. Sejumlah lukisan di dinding rumahnya ia copoti. Setelah koper-koper pakian dan peralatan lukisnya selesai dikemas, ia nyalakan mesin mobil.
Tancap gas. Ia tak mau lagi menengok ke belakang, ke rumahnya di California Utara. Perceraian dengan suaminya, Frank Ulbrich, menjadi pil pahit yang tak perlu dimasukkan dalam "laci" ingatannya.
Margaret membawa Jane kecil (diperankan Delaney Raye) untuk memulai kehidupan baru di San Francisco. Berbekal bakat melukis, Margaret lalu melamar pekerjaan sebagai ilustrator di sebuah pabrik furnitur. Ia juga mendapat kenalan baru, Walter Keane (Christoph Waltz), seorang makelar properti yang mengaku jadi pelukis amatir.
Walter terkesan dengan hasil karya Margaret berupa karakter-karakter anak kecil dengan ekspresi buram. Yang menjadikan lukisan cat akrilik di atas kanvas itu unik adalah semua karakter punya proporsi mata besar. Kebanyakan lukisan anak kecil itu menggunakan Jane sebagai modelnya, yang dikreasikan menjadi anak perempuan atau bahkan bocah laki-laki.
Benih-benih asmara perlahan tumbuh di antara keduanya sampai kemudian menikah. Margaret mau menikahi Walter demi mempertahankan hak asuh Jane yang sedang digugat Frank. Di era 1950-an, seorang ibu tunggal dianggap tak layak mengasuh anak dan menikahi Walter adalah solusi terbaik.
Bab baru kehidupan Margaret itulah yang mengantar ke adegan-adegan selanjutnya film bertajuk Big Eyes. Drama biopik garapan sutradara kondang Tim Burton ini mengisahkan lika-liku dan kontroversi kisah Peggy Doris Hawkins yang punya banyak alias: Margaret Ulbrich, Margaret Keane, Margaret McGuire.
“Aku percaya kita bisa melihat banyak hal dengan mata. Mata adalah jendela jiwa. Mata adalah caraku mengekspresikan emosiku. Ketika kecil aku pernah dioperasi dan membuatku tuli sementara hingga tak bisa mendengar apapun. Jadi aku hanya bisa menatap dan bergantung pada mata orang lain,” kata Margaret.
Bagi Walter, mata besar ciri khas Margaret itu begitu menarik. Pada suatu hari di tahun 1960, ia bahkan sampai memamerkannya di beberapa bidang tembok sebuah klub malam. Berkat bantuan Dick Nolan (Danny Huston), wartawan gosip dan pencari sensasi asal The Examiner, karya-karya itu mulai populer di kalangan sosialita.
Namun secara picik, Walter mengakui lukisan-lukisan itu adalah karyanya. Padahal, identitas pelukis di sudut kiri bawah lukisannya tertulis “Keane”.
Margaret pun mulai tertekan. Ia tak rela karyanya diakui sebagai karya sang suami. Ia merasa terjebak. Di satu pihak ia ingin diakui sebagai senimannya, di lain pihak, sang suamilah yang mampu menggaet para pembeli sampai mereka punya rumah mewah.
Margaret terpaksa terus berbohong pada Jane yang mulai dewasa (diperankan Madeleine Arthur) bahwa lukisan-lukisan yang membuat mereka kaya adalah karya Walter. Konfliknya akhirnya mencapai puncak di New York’s World Fair 1964. Karya 100 anak bermata besar dalam satu kanvas yang dipamerkan jadi target kritik tajam Canaday. Walter yang frustrasi dalam keadaan mabuk membuat Margaret dan Jane kabur dari rumah dan menetap di Hawaii.





