Part 5! Lelaki Di Tanah Perawan - Legenda
KORANBIBIR - Raka lagi-lagi merasa jadi orang tolol. Hanya dia yang berteriak, yang lain tertawa-tawa saja. Dia melihat supir speed boat memutar kemudinya ke kanan sehingga badan kendaraan memiring ke kiri, menimbulkan ombak besar!
Dia juga mengerem! Potongan batang pohon itu menjauh. "Hah! Baru batang pohon! Buaya aja, siapa takut!" supir speed boat tertawa dan membesarkan lagi kecepatan. Raka tidak menanggapi. Terserah! Kalau pun memang buaya ada, masa bodoh! Speed boat ini terbalik, silahkan!
Sebetulnya pengalaman di air, saat kecil sering ke Situ Cileunca, desa Ciwidey, Bandung Selatan. Dia bersama teman-temannya bermain lempar batu. Biasanya dia akan mencari batu yang pipih. Kemudian saat melemparkannya ke permukaan air danau harus rata dan agak diangkat sedikit, maka batu itu akan menyentuh permukaan air danau serta terbang, menyentuh lagi, terbang lagi bisa mencapai 3 hingga 5 kali.
Speed boat juga seperti batu yang dilempar tadi, terbang menyentuh permukaan sungai, terbang lagi, mendarat lagi, terbang lagi dan mendarat dengan keras!
“Uh!” Raka mengerang.
“Nggak usah tegang gitu, nanti cepet capek, Dik! Santai saja! Aman, kok!”
“Iya, Bang!” Raka pelan-pelan melepaskan pegangannya.
“Tarik napas dulu!” Raka mengikuti.
“Remas, Dik! Remas jari-jarinya!”Raka melakukan perintah sopir speed boat yang menyembunyikan wajahnya di balik topi baseball.
“Bagaimana? Mulai tenang?”
“Iya, Bang! Makasih.” Raka menarik lagi masker buff hingga ke hidung.
“Mau terus ke Senggolo Joyo?”
“Kok, Abang tahu?”
“Orang kota seperti Adik, mau ke mana lagi?”Raka merasa duduknya jadi tidak nyaman.
.“Mau minta berkah supaya dagangan laku? Karir di perusahaan naik? Kok, ke kuburan!”
“Gelo siah! Anda jangan asal ngebacot! Anda tidak tahu siapa saya! Anda tidak tahu kalau orangtua saya punya pabrik tekstil! Dasar udik! Brengsek!”
lagi-lagi kalimat makian itu hanya ada di pikirannya, tidak mampu dikeluarkannya. Tapi kalimat bergetar ini yang keluar dari mulutnya,
“Terus, mau ngapain?”
“Itu urusan saya, Bang!” tetap tidak keluar dari mulutnya.
“Saya, saya… mau ketemu temen, Bang…”
“Perawan desanya cantik-cantik, lho!” si sopir speed boat meledek.Raka mendelik.
“Saya nggak akan tidur dengan perawan desa!” keluar juga perlawanannya.
“Anjing! Jauh-jauh ke sini nggak tidur sama perawan desa! Dasar bodoh!”
“Biarin bodoh juga!”
“Sontoloyo! Anjing! Ya, terus ngapain ke Senggolo Joyo?“
“Biarin! Urusan saya! Jangan paksa saya! Dasar udik! Brengsek!” Raka hanya bisa memakai lagi masker buff-nya, wajahnya tertutup hingga ke bawah mata. Dia tidak berani mengatakan itu.
“Heh! Terus ngapain ke Senggolo joyo?”
“Sudah dibilangin, mau ketemu temen, Bang…,” pelan suaranya, tertelan masker buff. Si sopir speed boat melirik.
“Temen? Orang banyak duit kayak kamu punya temen di Senggolo Joyo?”
“Iya, Bang…”
“Siapa?”
“Ratih, Bang…”
“Ratih?” dia mengingat-ingat.
“Anaknya Mbak Marni!”
“Kok, Abang tahu?”
“Mereka itu legenda di sini!”
“Legenda?”
“Siapa yang nggak kenal sama ‘Mbak Marni’ dan anaknya ‘Ratih’! Mbak Marnilah yang pertama kali kabur dari desa terkutuk ini! Mereka jenis manusia langka! Mereka jadi panutan kami! Saya dengar mereka pulang kampung, ya!”
“Iya, Bang…”
“Dulu ada orang dari kabupaten berziarah ke makam keramat Ki Senggolo Joyo. Mbak Marni sebagai perawan desa dapat giliran jadi syaratnya. Menemani tidur peziarah yang ingin jadi anggota dewan itu. Anjing! Orang itu berhasil jadi anggota dewan di Jakarta! Saya ingat. Mbak Marni hamil. Lalu kabur ke Jawa! Ratih masih umur setahun dibawa! Mbak Marni jadi istri simpanan anggota dewan itu! Tapi orang tua Marni diasingkan ke hutan! Keturunan Ki Senggolo Joyo melarang semua warga berhubungan dengan mereka! Anjing!”
Raka menghela napas. Kisah hidup Ratih memang pelik. Tapi yang dia kecewa, justru tahu dari ibunya. Ratih menceritakan jati dirinya kepada ibunya, bukan kepada dirinya. Itulah kenapa ibunya tidak menyetujui hubungannya dengan Ratih.
Awalnya dia dan kedua orangtuanya hanya tahu, Ratih itu lahir dari istri simpanan, bukan dengan kisah drama tentang peziarah yang tidur bersama perawan desa sebagai syaratnya. Tapi itu tidak mengurangi kadar cintanya kepada Ratih walaupun ayah dan ibunya tidak setuju!
BERSAMBUNG ....



